mantabjiw
- Reads 13,333
- Votes 17
- Parts 4
Pagi itu, seragam cokelat muda khaki yang dipakai Ibu Melliyanti terasa lebih berat dari biasanya. Penugasan pertamanya sebagai PNS membawanya ke SD Negeri Pelosok 1, sebuah bangunan kayu lapuk di kaki bukit. Setiap malam, rindu pada suaminya, Firza (TNI), selalu ia tangisi dalam diam.
Ia menarik napas, memaksakan senyum saat melihat papan tulis yang dipenuhi coretan kapur tak jelas. Ia tahu, di sinilah ia harus mengabdi. Ia harus kuat, demi negara, dan demi Firza.
Tiba-tiba, keheningan pecah oleh suara yang lebih mendekati gerombolan bebek daripada murid sekolah. Pintu kelas didorong dengan keras.
Masuklah Geng Lima Jagoan, lima anak laki-laki kelas enam yang menjadi biang kerok sejati di SD itu. Kenakalan mereka memang khas anak SD, tapi frekuensinya membuat guru-guru lain menyerah.
Rizky (si pemimpin) melompat melewati ambang pintu, tangannya memegang ketapel yang ia sembunyikan di balik punggung. Di belakangnya, Bagas (si raja geger) berlari-lari mengelilingi meja, membuat kursi-kursi bergeser keras di lantai semen.
Dion (si tangan cepat) langsung mengeluarkan koleksi kartu gambar terlarang di bawah meja. Sementara Taufan (si jago bolos, meskipun bolosnya hanya bersembunyi di toilet) mulai menguap lebar-lebar.
Yang paling parah adalah Jaya (si penyebar kekacauan), yang dengan cueknya meniup balon dari permen karet besar hingga pecah, meninggalkan sisa lengket di pipinya.
Ibu Melliyanti yang anggun dan lembut, dengan jilbab nude rapi, berdiri di tengah kekacauan itu. Ia menarik napas. Jika ia tidak bisa menaklukkan lima jagoan ini, ia akan gagal dalam misi pengabdiannya.
"Selamat pagi anak-anak," katanya dengan nada lembut, tetapi mampu menghentikan Bagas yang sedang menendang kaki meja. "Ibu Meliyanti senang bertemu kalian. Sebelum kita mulai belajar, Ibu hanya ingin tahu satu hal."