mhmdsadyan
- Reads 677
- Votes 136
- Parts 30
Ada rindu yang tak pernah berani disebutkan namanya. Ia tumbuh diam-diam, bersembunyi di antara sujud panjang dan doa yang tak selesai diucapkan. Di mihrab, Aksara belajar bahwa tidak semua yang dicintai harus dimiliki, dan tidak semua rindu harus disampaikan.
Ia menulis untuk bertahan. Menyusun aksara demi aksara agar hatinya tetap utuh, meski jarak dan takdir perlahan mengajarinya arti kehilangan. Rindu datang bukan untuk melemahkan, melainkan untuk menguji : sejauh apa hati mampu bersabar, dan seberapa kuat iman menjaga perasaan.
Di antara luka yang tak terlihat dan air mata yang disembunyikan, Aksara menemukan satu kebenaran Allah tidak pernah menjauhkan sesuatu tanpa alasan. Kadang, rindu adalah jalan paling sunyi yang dipilih-Nya untuk membentuk hamba-Nya menjadi lebih dewasa, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada-Nya.
Mihrab, Aksara, Rindu bukan sekadar kisah cinta. Ia adalah perjalanan jiwa, tentang belajar melepaskan, tentang doa yang terus hidup, dan tentang rindu yang akhirnya kembali kepada pemiliknya
: Allah.
⚠️ PERINGATAN Seluruh isi cerita, alur, narasi, dan diksi dalam karya ini adalah murni hasil cipta penulis.
Dilarang keras menyalin, menjiplak, mengunggah ulang, atau mengklaim sebagian maupun seluruh isi cerita tanpa izin penulis.
Plagiarisme adalah pelanggaran etika dan hukum. Hargai karya, hargai penulis.