Emaiei
"Mangka Karsaning Langit Tan Nate Klentu, Sebab Sakehing Pepanggihan Sampun Sinurat Sadurunge Kala Kawiwitan."
Kehendak langit tidak pernah keliru, sebab setiap pertemuan telah ditulis sebelum waktu bermula.
1016 M.
Dyah Giriwangi Leburbhumi gugur dalam Pralaya Medang. Tewas di hari yang sama ketika pernikahannya berlangsung. Di ambang ajalnya, Giriwangi mengucapkan sebuah ikrar kepada Sang Hyang Widhi. Bahwa jika dunia merampas kehidupan mereka malam itu, maka biarlah mereka dipertemukan kembali di puncak Mahameru, di atas atap gunung suci tempat takdir lama menunggu untuk dilahirkan kembali.
2016 Seribu tahun kemudian.
Dyah Giriwangi Punarbhumi menapakkan langkah penjelajahnya pertama kali pada tanah yang sejak dulu menjadi larangan keras dari orang tuanya. Puluhan gunung telah ia daki dan taklukkan, tak sekalipun ia menginjakkan kaki di Jawa Timur. Namun sebagaimana kehidupan manusia telah ditetapkan bahkan sebelum bumi diciptakan, begitu pulalah takdir membawanya kembali pada masa di mana ia seharusnya berada.