imnbanten
Siapa yang menyangka lelaki renta yang menjajakan dagangannya tertatih-tatih dan bersuara parau itu ternyata seorang algojo dari massa pemusnahan massal ketika negeri ini bergolak akibat perseteruan tentara dengan salah satu partai politik. Orang di perumahan mengenalnya adalah seorang pedagang renta yang menolak jika diberi sedekah, lebih meminta pemberi sedekah membeli dagangannya. Meski orang itu membeli dagangan lebih didorong rasa iba, bukan karena membutuhkan dagangan yang ditawarkan lelaki tua yang matanya mulai rabun.
Memang tak menyangka. Lelaki itu adalah seorang algojo yang disiapkan kiai di pesantren untuk memimpin sebuah brigade. Lelaki itu dididik dan dilatih sejak umur lima tahun. Saat panggilan tugas dilaksanakan, lelaki itu memimpin brigade yang menakutkan, menggerigis dan membuat ciut nyali. Para pentolan partai yang berseteru segera tunggang langgang begitu mendengar brigade yang dipimpinnya datang.