Anakkost storie

Filtra per tag:
anakkost
anakkost

2 Storie

  • Angle "Dark Comedy & Corporate Slavery" di HasedaGeanz
    HasedaGeanz
    • WpView
      LETTURE 43
    • WpPart
      Parti 13
    Setiap pekerja kantoran pasti pernah punya satu fantasi gelap yang disembunyikan rapat-rapat: melempar laptop ke wajah bos, memaki HRD, atau menekan tombol alarm kebakaran saat disuruh lembur tak dibayar di hari Jumat. Bagi Tomun, pemuda Dayak yang urat takutnya sudah putus setelah pesawat ekonominya nyaris hancur berkeping-keping di udara, fantasi itu bukanlah angan-angan. Itu adalah to-do list. Selamat dari kiamat cuaca ternyata hanya pengantar menuju neraka yang lebih banal: desak-desakan maut di KRL Manggarai, kamar kos seukuran kandang ayam, dan atasan SCBD berompi salju yang berbicara dengan bahasa alien (synergize, helicopter view, bandwidth). Muak dengan kebohongan sistem, Tomun membalasnya dengan cara yang sangat tradisional: ia memutus kabel fiber optic server utama perusahaannya menggunakan sabetan pedang pusaka Mandau peninggalan leluhurnya. Bukannya dipenjara, aksi kriminal brutalnya malah disembah sebagai "Inovasi Siber Level Dewa" oleh ekosistem tech-bro Jakarta yang sudah putus asa. Berbekal uang kaget satu milyar rupiah-yang langsung ia pakai untuk membalas dendam pada ibu kosnya-dan setelan jas bespoke puluhan juta, Tomun kini disewa oleh taipan Old Money. Misinya? Menyusup ke Bursa Efek Indonesia dan membatalkan pencatatan saham IPO bodong senilai 20 Triliun Rupiah. Ini bukan cerita motivasi murahan tentang anak daerah yang sukses meniti karier. Ini adalah surat cinta berdarah untuk kalian semua yang gajinya habis hanya untuk membayar cicilan dan membiayai gaya hidup bos kalian.
  • PESAN DALAM BOTOL di Ketikantukangketik
    Ketikantukangketik
    • WpView
      LETTURE 64
    • WpPart
      Parti 7
    Ada rindu yang tak sempat dilautkan, dan kata-kata yang tak pernah menemukan pantainya... Kadang pertemuan bukan tentang kebetulan atau takdir, melainkan tentang dua garis hidup yang bersilang dalam senyap. Ia hadir seperti musim yang tak pernah bisa ditebak; hangat, namun tak menetap. Sedangkan aku hanyalah gugusan awan yang berharap, menunggu angin membawaku ke arahnya. Kita terhubung bukan oleh genggaman tangan, tapi oleh percakapan panjang yang tumbuh dari hal-hal remeh dan diam yang saling mendengar. Aku menulis rasa pada dinding hati yang tak bisa dibaca, menaruhnya dalam botol kenangan, lalu kulempar ke samudera virtual yang tak punya peta. Apakah ia akan menemukannya? Atau mungkin botol itu akan karam, seperti harapan yang terlalu takut untuk diucapkan?