aksaraluna_
Bagi Shera Taffana, hidup adalah tentang lembar lajur akuntansi yang harus berjalan dengan seimbang dan presisi sempurna. Sebagai si peringkat pertama paralel yang perfeksionis, ia tidak pernah membiarkan ada satu angka pun yang meleset dari logikanya. Fisiknya boleh saja mungil dengan tinggi 150 cm dan pipi chubby yang menggemaskan, tapi tatapan mata dingin sanggup membuat siapa saja segan.
Di seberang lapangan sekolah, ada Liam Emmeric. Murid Teknik Otomotif setinggi 167 cm yang lowkey, tidak suka cari panggung, namun diam-diam mengamankan posisi peringkat lima besar berkat otak encernya menaklukkan mesin kendaraan. Ia adalah tipe anak tengah yang sabar, peka, dan memiliki senyum manis tak terduga yang bisa mencairkan suasana.
Dua kutub yang bertolak belakang ini mendadak terjebak di dalam satu frekuensi yang sama, dimulai dari sebuah ketukan DM Instagram yang tak terduga. Namun, tepat ketika ritme itu mulai terasa nyaman, badai bernama Praktek Kerja Lapangan (PKL) datang.
Shera harus bergelut dengan dinginnya AC kantor pajak dan birokrasi perpanjangan SIM, sementara Liam harus mandi keringat di bawah deru kompresor bengkel resmi. Di dua dunia yang berbeda, waktu mereka mulai tersita, dan jarak perlahan merusak balance yang telah mereka susun.
Apakah logika angka dan mekanisme mesin bisa bersatu saat ego dan kelelahan fisik mulai menguji mereka? Lalu, bagaimana dengan urusan hati? Apakah bisa diselesaikan dengan rumus akuntansi atau mekanika otomotif?