GinSomeya
"Mungkin.. ah, tidak. Aku tahu, aku tahu betul sampai kapanpun aku tidak bisa menggeser posisi Mamiya-san sebagai Messiahmu. Tapi, aku bisa merasakan kalau ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu Ariga-san." Sedikit menghela nafas, Itsuki sedikit banyaknya mulai merasa tertekan dengan omongannya barusan. Itu jelas kebohongannya.
"Kalau kau sudah tahu, minggirlah dari jalan. Kau tidak perlu khawatir dengan keadaanku Kagami. Pikirkan saja dirimu sendiri." Ariga menyingkirkan paksa tangan kanan Itsuki. Ia jalan lurus meninggalkan Itsuki dilorong.
"Aku yakin! Aku yakin Mamiya-san tidak akan senang kalau Ariga-san berlaku seperti ini! Bukannya itu sama saja dengan Ariga-san belum melepaskannya?! Kalau iya, kasihan sekali Mamiya-san disana. Ia pasti tidak akan tenang."
Itsuki diam seribu bahasa. Ia melihat dengan jelas ekspresi Ariga saat ini. Bau anyir tercium jelas diindera penciumannya yang peka. Tangannya gemetaran. Bukan tangannya tapi tangan milik Messiahnya.
"Ariga-san?!"
"Kembalilah ke kamar. Aku harus ke klinik sebentar."