heressoo
Theo Linardi tahu sejak kecil bahwa keluarganya kaya dan berpengaruh, tapi ia tidak pernah menyangka hidupnya akan ditentukan oleh janji kakek-neneknya di masa lalu. Seharusnya, cucu mereka akan dijodohkan dengan cucu sahabat mereka. Namun, ada satu masalah- entah pasangannya ataupun dirinya seharusnya seorang wanita. Sayangnya, Theo adalah satu-satunya cucu yang dimiliki keluarga Linardi, dan perjodohan itu tetap harus terjadi.
Ethan Aldermann, pria yang selama ini menjalani hidupnya dengan bebas, merasa dikhianati oleh keluarganya sendiri. Ia tidak pernah membayangkan dirinya harus terikat dengan seseorang, apalagi seorang pria. Tapi di bawah tekanan keluarga, ia tidak bisa menolak keputusan itu-kehendak keluarga adalah mutlak. Namun, bukan berarti Ethan akan menerimanya begitu saja.
Dengan penuh amarah dan penolakan, Ethan memperlakukan Theo lebih sebagai asisten pribadi daripada pasangan yang dijodohkan. Ia dingin, kasar, dan memperlakukan Theo seperti beban. Theo harus menuruti setiap perintahnya, menerima perlakuannya yang seenaknya, dan terus bertahan dalam bayang-bayang perjodohan ini tanpa keluhan.
Yang paling membuat Ethan frustasi adalah ketidakpedulian Theo. Tidak ada perlawanan, tidak ada kemarahan. Theo hanya menerimanya-tanpa protes, tanpa emosi, seolah-olah dirinya memang tidak layak mendapatkan perlakuan lebih baik.
Namun, seiring waktu, kebencian Ethan mulai berubah. Kenapa Theo masih bertahan? Kenapa ia tidak pernah menolak? Dan kenapa, saat Ethan mulai terbiasa dengan keberadaannya, muncul rasa takut kehilangan?
Di sisi lain, Theo mulai menyadari bahwa bertahan dalam diam bukanlah satu-satunya pilihan. Ia harus memutuskan-tetap berada di sisi Ethan meskipun terus tersakiti, atau akhirnya melangkah pergi sebelum semuanya terlambat.