serenus_14
Bagi Elara Ayu Paramitha, rasa percaya adalah sebuah kemewahan yang teramat langka, seperti fenomena Blue Moon yang hanya muncul sekali dalam sekian purnama. Dunianya yang semula tenang runtuh dalam satu malam oleh sebuah pengkhianatan yang tak pernah dia duga. Kejadian itu menyisakan luka tak kasatmata yang teramat dalam, mengubahnya menjadi sosok yang dingin dan selalu berjalan di bawah bayang-bayang ketakutan.
Sejak malam kelam itu, Elara membangun benteng pertahanan yang teramat tinggi. Dia menutup rapat pintu hatinya dan bersumpah tidak akan pernah membiarkan siapa pun masuk lagi ke dalam radarnya. Di balik tembok trust issue yang melelahkan, Elara mencoba bertahan sendirian, menyembunyikan kerapuhannya dari dunia luar. Baginya, mengisolasi diri adalah satu-satunya cara aman agar tidak kembali dihancurkan.
Namun, menyembuhkan luka ternyata tidak semudah membangun benteng. Ketika semesta mendatangkan sebuah kehadiran baru yang menawarkan kehangatan, Elara justru terjebak dalam perang batin yang hebat. Setiap kali dia ingin melangkah maju untuk menerima ketulusan yang baru, rasa takut akan masa lalu selalu berbisik, menariknya kembali mundur ke dalam kegelapan.
Di antara dinginnya tembok pertahanan yang dia buat dan kerinduan untuk kembali merasa bahagia, Elara dipaksa menghadapi badai di dalam kepalanya sendiri.
Bagaimanakah cara Elara menyembuhkan luka yang bahkan tidak berdarah itu? Dan akankah dia berhasil keluar dari labirin traumanya untuk menjemput bahagia yang baru?