arkenras47
Cerita berpusat pada tokoh utama bernama Kenoi, seorang pemuda yang memiliki idealisme tinggi terhadap keadilan sosial. Ia kerap merasa geram melihat berbagai persoalan di masyarakat, mulai dari kebijakan pemerintah yang dirasa menyusahkan rakyat kecil hingga ketidakadilan yang ia saksikan sendiri sejak masa lalu. Kenoi berprinsip bahwa seseorang harus berani bersuara dan melawan ketidakadilan tersebut.
Dalam perjalanannya, Kenoi tidak sendirian. Ia sering berdiskusi dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya di sebuah kafe, yaitu Yadista dan Mela (yang berprofesi sebagai guru dan menghadapi dilema dunia pendidikan), serta Isran dan Mada yang memiliki pandangan lebih realistis atau skeptis terhadap cara kerja opini publik dan media sosial. Selain itu, ada pula sosok Mbak Pevi, yang memberikan sudut pandang bijak mengenai bagaimana idealisme sering kali hanyalah bayangan dari ekspektasi diri sendiri.
Seiring berjalannya waktu, konflik utama dalam novel ini bukanlah pertempuran fisik melawan musuh, melainkan pergulatan mental Kenoi. Ia mulai dihadapkan pada kenyataan bahwa apa yang ia anggap ideal dan benar belum tentu dilihat dengan cara yang sama oleh orang lain. Suara idealis yang disuarakan dengan keras kerap kali rentan diputarbalikkan menjadi propaganda atau bumerang di tengah arus informasi media sosial yang manipulatif. Keinginan untuk terus idealis mulai menggoyahkan keyakinannya sendiri, membuatnya mempertanyakan apakah jalannya selama ini sudah benar atau ia hanya mengejar bayangan semu.