Lululalaayu
Seribu cara selalu dimiliki Gazza Mahatma untuk membuat Kaniya Petra tertawa, menciptakan kenangan yang mustahil untuk dilupakan. Gadis itu-adik kelas yang satu tahun lebih muda-adalah sosok pemberani yang dulunya dengan riang mengungkapkan cinta di hadapan banyak orang.
Waktu seolah selalu memberi ruang bagi hubungan mereka di masa abu-abu putih ini. Namun, tak dapat dimungkiri, ada kekhawatiran yang menyelubungi benak keduanya: bagaimana jika suatu saat waktu enggan meluangkan ruang untuk mereka bertemu? Entah sanggup atau tidak untuk merelakan, takdir selalu memiliki titik nadirnya sendiri bagi setiap insan yang dinaunginya.
Di sinilah mereka sekarang, di gazebo depan SMA Pelita Bangsa. Tempat yang menjadi saksi bisu saat Kaniya mengutarakan cintanya, dan tempat yang kini kembali menjadi saksi saat ia harus melepas sosok paling berharga dalam hidupnya setelah dua tahun menjalin kasih.
Gazza menggenggam erat kedua tangan Kaniya, menatap netra indahnya untuk terakhir kali sebelum ia harus terbang menuju belahan bumi yang lain untuk waktu yang cukup lama. Kali ini, bukan untuk mengakui kesalahan, melainkan untuk menitipkan sebuah harap.
"Kalau pun nanti dunia berubah dan kita menjadi orang asing, aku akan tetap mengenali matamu di keramaian mana pun," ucap Gazza lirih. "Kita hanya berpisah sebentar untuk menjemput masa depan kita masing-masing. Berjanjilah padaku, saat kita bertemu nanti, kamu sudah menjadi lawyer yang keren."
Gazza terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam, "Aku yakin Kaniya, jika dua orang memang ditakdirkan untuk melengkapi, ia pasti akan pulang ke arah yang benar. Dan arah itu adalah aku. Kita pasti akan bertemu lagi, Kaniya."
Gazza merogoh sakunya, mengeluarkan gelang yang diam-diam ia susun sendiri model bracelet kesukaan Kaniya. Dengan telaten, ia memasangkannya di pergelangan tangan gadis itu, sebelum akhirnya memberikan pelukan terakhir. Ia harus segera pergi menuju bandara, menuju negeri kincir angin itu. Belanda