hana_pena
Suara gelak tawa yang riuh rendah memecah keheningan sore di Lapangan Utara kampus. Di atashamparan rumput hijau yang mulai meredup terpapar bayangan panjang pohon beringin tua, delapan orang pemuda-pemudi duduk melingkar di atas selembar tikar usang. Di hadapan mereka, tumpukan kertas revisi skripsi, cangkir kopi instan yang mulai dingin, dan beberapa bungkus camilan berhamburan tak beraturan.
Bagi mereka, tempat ini bukan sekadar sudut biasa di lingkungan kampus. Lapangan Utara adalah saksi bisu dari ribuan jam perjuangan, perdebatan sengit tentang teori-teori rumit, tangisan kekecewaan, hingga pelukan hangat saat salah satu dari mereka berhasil melewati sidang meja hijau yang menegangkan.
"Sumpah ya, kalau bab tiga revisi gue dicoret-coret lagi sama dosen pembimbing besok, gue mau pensiun jadi sarjana dan alih profesi jadi petani cacing aja!" gerutu Rudi dengan nada berlebihan, mengundang tawa lepas dari teman-teman di sekitarnya.
Diah langsung menyipitkan mata tajam ke arah Rudi. "Rudi, ngomong jangan asal. Jadi petani cacing pun kamu bakal malas-malasan dan minta tolong orang lain buat nyangkul."
"Ih, Diah judes banget sore-sore," bela Rudi sambil memajukan bibirnya, membuat Toro yang duduk di seberangnya terbahak-bahak sambil menepuk paha Rudi keras-keras.
Reta, si gadis cerdas yang terkenal paling moody, tersenyum tipis di balik buku catatannya. Meski beberapa jam lalu ia sempat mengeluh kesal karena revisinya menumpuk, kehangatan yang dipancarkan oleh ketujuh sahabatnya selalu berhasil mengembalikan semangatnya. Di sebelah Reta, Hana duduk dengan tenang, merapikan lembar demi lembar transkrip wawancara miliknya dengan rapi dan terorganisir.
Di sisi lain lingkaran, Gian dengan sabar mendengarkan keluh kesah Nia yang menceritakan betapa gugupnya ia menghadapi hari wisuda bulan depan. Gian merespons dengan senyuman teduh yang selalu berhasil menenangkan hati Nia. Sementara itu, Abdul duduk di sudut dengan tenang, sesekali tersenyum bijak mendengar perdebatan.