sthtcirl
Laura Shiena sudah terbiasa dengan hidup yang berjalan begitu saja.
Bangun pagi, berangkat kerja, menyelesaikan pekerjaan, pulang, lalu mengulang semuanya keesokan hari. Di antara pekerjaan yang nggak pernah benar-benar selesai, obrolan singkat dengan teman-temannya, dan pesan dari rumah yang selalu punya sesuatu untuk dibicarakan, Laura hampir nggak pernah punya waktu untuk bertanya: sebenarnya, dia mau apa?
Di usia dua puluh tujuh, Laura bukan lagi seseorang yang bisa seenaknya memikirkan diri sendiri. Ada keluarga yang perlu dibantu, pekerjaan yang harus dipertahankan, dan banyak hal yang rasanya lebih mudah dijalani daripada dipertanyakan.
Sampai kemudian, beberapa orang datang dan beberapa hal mulai berubah.
Bukan perubahan besar yang langsung mengubah hidupnya. Hanya percakapan-percakapan kecil, kebiasaan baru, pertemanan yang semakin dekat, dan seseorang yang perlahan membuat Laura merasa bahwa hidupnya mungkin nggak harus selalu tentang bertahan.
Karena ternyata, hidup bukan cuma soal satu hal.
Ada pekerjaan. Ada keluarga. Ada teman. Ada perasaan yang nggak selalu bisa dijelaskan. Dan ada satu-dua hal yang selama ini sengaja Laura kesampingkan.
Mungkin, di antara semua itu, Laura akhirnya bisa menemukan sesuatu yang benar-benar ingin dia pilih sendiri.