bintarobastard
Kadang, ketika malam menebar angin dari Laut Timor dan kota Dili terbaring setengah mati, aku masih terjaga di antara suara jangkrik dan gema lonceng gereja tua. Di kursi rotan tua, di rumah sewa yang kini hanya disinggahi bayangan, aku mendengar kembali langkah-langkah masa lalu: deru sepatu bot di lorong rumah sakit, tangis perempuan di jalan berbatu, dan suara lirih lelaki yang membacakan puisi di bawah lampu petromaks.
Namaku Arjuna Sihombing. Di negeri ini, aku pernah datang sebagai utusan negara-dokter yang membawa sumpah, percaya akan merah putih yang berkibar di tanah asing, percaya pada tugas, dan pada rumah yang kutinggalkan jauh di Jakarta. Tapi negeri ini, Timor Timur, menelanjangi semua keyakinan itu. Ia mencabik hatiku, lalu menanam benih lain di dalamnya: benih ragu, benih kehilangan, dan sesuatu yang selama bertahun-tahun berusaha kupadamkan-kerinduan pada lelaki bernama Manuel Soares.
Manuel bukan sekadar luka atau kenangan, bukan pula sekadar korban dalam perang yang tak kupahami. Ia adalah puisi di tengah reruntuhan, tawa di antara letupan senjata, suara pelan yang menuntun aku menyeberang dari batas-batas yang diajarkan sejak kecil: antara Indonesia dan Timor, antara benar dan salah, antara cinta dan takut.
Kini, dari kejauhan, ketika kabar kemerdekaan Timor Leste sampai ke telingaku seperti kabut pagi yang pelan-pelan membungkus ibukota, aku tahu kisah kami hanyalah sebutir pasir dalam sejarah besar bangsa-bangsa. Tapi bagi hati yang pernah saling berjanji dalam bisu, kisah itu adalah dunia itu sendiri-dunia yang akan tetap hidup selama malam-malam di Dili masih menulis ulang namanya sendiri.