SamuelPangaribuan3
Hujan turun di lereng gunung ketika sebuah bus berisi tujuh belas orang tergelincir ke dalam kabut.
Saat mereka sadar, jalanan yang seharusnya menuju kota telah berubah - menjadi jalan batu yang tak tercatat di peta mana pun.
Di ujung jalan itu berdiri sebuah gerbang kayu tua, dengan tulisan yang hampir terhapus:
"D... e... s... a..."
Penduduknya ramah, terlalu ramah.
Rumah-rumahnya bersih, tapi tidak satu pun memiliki bayangan.
Dan setiap malam, lonceng besar berdentang tiga kali - pertanda bahwa satu orang akan dipanggil.
Dara, satu-satunya yang masih mencoba berpikir logis, mulai menyadari bahwa desa ini bukan tempat nyata.
Desa itu seperti hidup, seperti menunggu sesuatu... atau seseorang.
Dan semakin lama ia bertahan di sana, semakin jelas satu hal:
Desa ini tidak ingin mereka pergi.