miaw69
"Jika kentongan dari sawah berbunyi enam kali: Jangan disahut. Jangan dibuka. Dan yang paling utama... jangan pernah percaya pada suara yang paling kau kenal."
Di sebuah kampung yang dikepung rawa, kentongan ronda adalah hukum hidup dan mati. Lima ketukan punya arti kematian, maling, kebakaran, banjir, dan binatang buas. Namun, ada satu ketukan yang tak pernah boleh dibunyikan: enam kali.
Suatu malam, kentongan dari sawah tua berbunyi enam kali.
Paginya, Danu, suami Sekar yang sedang ronda, menghilang. Yang tertinggal hanya senter redup dan sarung berlumpur hitam yang berbau busuk.
Dua malam kemudian, seseorang mengetuk pintu rumah Sekar.
"Kar... buka, Kar. Mas kedinginan."
Suara itu milik Danu.
Persis.
Tetapi suaminya tak mungkin berada di luar. Ponsel dan jam tangannya masih tergeletak di meja. Dan di depan pintu hanya ada jejak kaki basah tanpa tumit.
Saat Sekar menemukan catatan tua tentang Sengkolo Peniru, ia mengetahui kebenaran yang lebih mengerikan: makhluk itu tidak sekadar meniru suara.
Ia sedang belajar menjadi Danu.
Dan malam ketiga adalah malam ketika peniru itu akan mengambil wujud korbannya sepenuhnya.
Ketika sosok Danu akhirnya berdiri di ambang pintu, Sekar hanya punya satu kesempatan untuk memastikan siapa yang sebenarnya berada di luar.
Sebab jika ia salah membuka pintu, yang masuk mungkin bukan suaminya.