brambooks
Friska Kalani tidak pernah kalah dari klien manapun - sampai seorang CEO yang badannya sudah lebih bagus dari kliennya sendiri masuk ke sesi yang salah jadwal, dan menolak keluar.
Friska Kalani percaya tubuh tidak pernah bohong. Sebagai personal trainer sekaligus co-founder Studio Kinetic, ia sudah membaca ribuan gerakan - dan belum pernah salah. Program sudah dirancang, tidak ada kompromi, tidak ada alasan. Begitu caranya bertahan, begitu caranya menjaga studio yang jadi taruhan hidupnya tetap berdiri.
Lalu asisten yang salah input jadwal mengirim Martin Arsakha - CEO Arsakha Group, orang yang badannya sudah lebih fit dari kebanyakan klien Friska - ke sesi pukul tujuh pagi yang sebetulnya bukan miliknya.
Martin sadar itu kesalahan sejak menit pertama. Ia tidak keluar. DP sudah lunas, jadwalnya tidak punya slot lain minggu ini, dan ia tidak suka mengulur waktu.
Yang tidak diketahui Friska: Martin tidak mendaftar karena butuh dilatih. Ia mendaftar karena dokternya memaksa structured recovery program untuk bahu kanan yang sudah enam bulan ia abaikan.
Friska merancang program untuk klien level menengah. Yang ia dapatkan justru seseorang yang melanggar setiap aturan tak tertulisnya - komplain, tawar-menawar - tanpa pernah benar-benar salah secara teknis. Yang membuatnya makin sulit dimarahi.
Lalu Friska mulai memperhatikan: cara Martin berdiri sedikit miring dari cermin. Cara ia melanjutkan repetisi jauh melewati angka yang Friska tentukan, bukan karena pamer, tapi karena ia memang tidak punya tombol berhenti.
Dua kali seminggu, pukul tujuh pagi, di ruang latihan yang sama - dua orang yang terbiasa memegang kendali penuh atas hidup masing-masing pelan-pelan belajar bahasa yang tidak pernah mereka ajarkan ke diri sendiri: bahasa mengalah, sedikit demi sedikit, tanpa kehilangan diri.
CEO Salah Booking - kisah tentang dua orang keras kepala yang tidak salah paham satu sama lain, hanya belum tahu cara berhenti mengendalikan segalanya sendirian.