karacahya
Setelah gagal mempertahankan hubungan sepuluh tahun dan berkali-kali bertemu pria-pria anomali di aplikasi kencan, Shasra sampai pada satu kesimpulan sederhana:
Mencari jodoh di Bumble adalah pekerjaan yang terlalu melelahkan.
Jadi ia menyerah.
Atau lebih tepatnya, mengubah tujuan.
Alih-alih mencari pasangan hidup, ia mulai menggunakan Bumble sebagai laboratorium sosial pribadi. Tempat mengamati manusia, mengumpulkan cerita, dan mencari bahan tulisan untuk mengisi akhir pekannya.
Sampai sebuah swipe right terakhir mempertemukannya dengan Aldi.
Seorang pria workaholic yang lebih tertarik membahas kontrakan lima puluh pintu, smart door lock, dan teori komunikasi daripada menanyakan, "Kamu tinggal di mana?"
Awalnya Shasra mengira Aldi hanya akan menjadi satu bab lagi dalam catatan observasinya.
Namun semakin lama mereka berbicara, semakin sulit membedakan mana eksperimen, mana perasaan.
Lalu semuanya berantakan.
Sebuah cerpen.
Sebuah kritik dua puluh halaman yang tidak pernah terkirim.
Sebuah tombol unmatch.
Dan dua orang asing yang kehilangan satu sama lain bahkan sebelum sempat bertemu.
Yang tidak mereka tahu, cerita itu ternyata belum selesai.
Karena kadang-kadang, swipe right yang paling tidak penting justru mengubah seluruh arah hidupmu.