SaepudinNurahim
"Dunia ini tidak diciptakan hening. Ia adalah sebuah komposisi besar, di mana setiap detak jantung adalah ketukan ritme, dan setiap tarikan napas adalah melodi. Namun, apa yang terjadi ketika partitur kehidupan itu sengaja dirusak oleh tangan-tangan serakah?"
Bagi Aleria, musik adalah keteraturan yang presisi. Sebagai bassist band rock ternama dunia di Batara Raya, ia memahami dunia lewat getaran frekuensi. Namun, harmoni hidupnya hancur berantakan ketika sebuah dentuman brutal dari serangan militer Zionis membungkam sisa konsernya-mengubah sorak-sorai ratusan manusia menjadi keheningan abadi. Aleria selamat, bukan sebagai manusia biasa, melainkan sebagai anomali sains. Tubuhnya kini mampu menangkap, memanipulasi, dan membalikkan resonansi kinetik murni. Di sela-sela waktu luangnya, di balik topeng renda hitam yang elegan, ia menjelma menjadi Black Angel-sebuah distorsi liar di jalanan yang siap menghancurkan dinding ketidakadilan dengan hukum fisika sonik.
Namun, di sudut lain Batara Raya yang kelam, sebuah melodi tandingan mulai mengalun. Nadira Valentina, yang kini dikenal sebagai Symphony Reaper, hadir memimpin orkestra bawah tanah "The Crescendo". Baginya, keadilan di dunia yang korup ini sudah tidak bisa diperbaiki, melainkan harus diarahkan menuju kehancuran total lewat ritual instrumen supranatural-gelapnya. Nadira memandang darah para kapitalis dan penguasa korup sebagai tinta untuk menulis ulang partitur keadilan yang baru.
Dua musisi yang sama-sama lahir dari rahim tragedi kini harus berhadapan. Saat lagu perlawanan rock yang eksplosif berbenturan dengan kemegahan simfoni kematian gotik klasik, Batara Raya menjadi panggung auditorium yang mencekam. Di bawah sorot lampu malam yang basah oleh hujan, Aleria tidak hanya bertarung untuk meredam frekuensi supranatural Nadira yang mampu menghentikan jantung, tetapi juga berkejaran dengan gema trauma di dalam kepalanya sendiri.