iis537542
Aku jatuh cinta pada setiap tutur katanya, pada setiap lamunannya, pada setiap inci dari wajahnya, dan pada semua yang dilakukannya. Namun, aku jatuh cinta sendirian.
Kuberi nama ia, Pelangi.
Pelangi, bagaimana bisa aku yang rendah derajat ini jatuh cinta padamu?
Aku memang diam-diam sering mengikuti langkahmu walau dari jarak 3 meter,aku sering mengikuti setiap kegiatan kampus berdalih agar aku bisa melihatmu dan bertegur sapa denganmu, bahkan ada satu hari aku melihatmu menangis sendirian di taman belakang kampus, tangisanmu begitu sendu. Kulihat dimatamu ada sebuah beban yang tak sanggup kau pikul. Ada apa, Pelangi? Bukankah, kau sosok pria yang periang? Canda tawamu selalu menggelegar disetiap aku mendengarnya. Aku bisa meringankan beban itu, Pelangi. Namun, aku terlalu takut mengungkapkan bahwa disini, disetiap langkah kakimu akan ada saku yang selalu mengiringi, meski kau takkan pernah tau. Bagaimana caranya agar kau tahu bahwa aku yang selalu mendoakan kebahagiaanmu? Aku, si wanita yang tak tahu diri, si wanita yang dengan berani mencintaimu tanpa sepengetahuanmu, dan aku wanita yang tidak bertanggung jawab atas jatuhnya cinta ini dengan sendirian.
Hampa, kosong, tak pernah ada yang tau. Selain aku, hatiku, dan Tuhanku.
Dipenghujung Bulan Februari ini, aku berharap akan ada keajaiban dalam setiap mulutku. Aku ingin membeberkan semua rasaku ini padamu, Pelangi.
Bandung, 28 Februari 2019