Dili Stories

Refine by tag:
dili
WpAddbeden
dili
WpAddbeden

16 Stories

  • Devan-Lilyflower by ebeisme
    ebeisme
    • WpView
      Reads 2
    • WpPart
      Parts 1
    Devan-Lilyflower aka Dili is a 16 year old girl who does not have the best life. What will happen when she meets a boy? What will he do to make her life more worth living? Where will they go together?
  • Uçakta korku  by Umut418
    Umut418
    • WpView
      Reads 1
    • WpPart
      Parts 1
    Ben Ahmet Sıraç Kaya 2012 tarihinde doğdum 10 yaşındayım bu kitabı uçakta geçen korkumu anlattım. Umarım beğenirsiniz.
  • Uçakta korku  by Umut418
    Umut418
    • WpView
      Reads 11
    • WpPart
      Parts 3
    Ben Ahmet sıraç Kaya 2012 yılında doğdum 10 yaşındayım bu kitapta uçaktaki bir ailenin hikayesini anlattım umarım beğenirsiniz. !DİKKAT! !BU KİTAP UYDURMA BİR KİTAPTIR!
  • A Hidden Beauty: Dili by megasavi
    megasavi
    • WpView
      Reads 6
    • WpPart
      Parts 1
    Dili is a small city in East Timor. Not many people knew about Dili, but if you want to enjoy beautiful beaches and a slow paced life, you definitely need to visit this place.
  • Infos über mich by Dili-Chan
    Dili-Chan
    • WpView
      Reads 66
    • WpPart
      Parts 1
    Hey? Keine Ahnung wieso sich jemand diesen Bullshit durchlesen sollte. Also... Ich bin ein Otaku und habe ein Mega langweiliges Leben. Und: Ich bin sehr schnell genervt. Ugh.
  • Lorosae  by bintarobastard
    bintarobastard
    • WpView
      Reads 648
    • WpPart
      Parts 19
    Kadang, ketika malam menebar angin dari Laut Timor dan kota Dili terbaring setengah mati, aku masih terjaga di antara suara jangkrik dan gema lonceng gereja tua. Di kursi rotan tua, di rumah sewa yang kini hanya disinggahi bayangan, aku mendengar kembali langkah-langkah masa lalu: deru sepatu bot di lorong rumah sakit, tangis perempuan di jalan berbatu, dan suara lirih lelaki yang membacakan puisi di bawah lampu petromaks. Namaku Arjuna Sihombing. Di negeri ini, aku pernah datang sebagai utusan negara-dokter yang membawa sumpah, percaya akan merah putih yang berkibar di tanah asing, percaya pada tugas, dan pada rumah yang kutinggalkan jauh di Jakarta. Tapi negeri ini, Timor Timur, menelanjangi semua keyakinan itu. Ia mencabik hatiku, lalu menanam benih lain di dalamnya: benih ragu, benih kehilangan, dan sesuatu yang selama bertahun-tahun berusaha kupadamkan-kerinduan pada lelaki bernama Manuel Soares. Manuel bukan sekadar luka atau kenangan, bukan pula sekadar korban dalam perang yang tak kupahami. Ia adalah puisi di tengah reruntuhan, tawa di antara letupan senjata, suara pelan yang menuntun aku menyeberang dari batas-batas yang diajarkan sejak kecil: antara Indonesia dan Timor, antara benar dan salah, antara cinta dan takut. Kini, dari kejauhan, ketika kabar kemerdekaan Timor Leste sampai ke telingaku seperti kabut pagi yang pelan-pelan membungkus ibukota, aku tahu kisah kami hanyalah sebutir pasir dalam sejarah besar bangsa-bangsa. Tapi bagi hati yang pernah saling berjanji dalam bisu, kisah itu adalah dunia itu sendiri-dunia yang akan tetap hidup selama malam-malam di Dili masih menulis ulang namanya sendiri.
  • 19 by bintarobastard
    bintarobastard
    • WpView
      Reads 1,206
    • WpPart
      Parts 24
    Di awal tahun 2020, dunia mendadak remuk oleh pandemi. Solo dan Jakarta-dua kota yang biasanya riuh oleh lalu-lalang manusia-tiba-tiba membisu, menahan napas di antara deru sirene ambulans dan pengumuman lockdown. Di tengah krisis ini, dua pria yang hampir kehilangan dirinya sendiri justru menemukan kembali jejak masa lalu yang sempat mereka kubur rapat-rapat. Hening Sandikala, 35 tahun, seorang pelukis melankolis yang baru saja menggelar pameran tunggal di galeri tua Mangkunegaran, Solo, bersiap pulang ke Jakarta. Ia telah lama membiasakan diri hidup di bayang-bayang kanvas, cat minyak, dan keraguan-sendirian, berpindah-pindah kota, ditemani sahabat setia seperti Devi si kurator galeri yang vokal, atau Nyi Samiyem, ibu kos klasik yang terlalu peka membaca isi hatinya. Di bandara Adi Sumarmo yang lengang, ketika semua orang menunggu hasil swab test, Hening bertemu lagi dengan sepasang mata yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya-Tawa Suryanegara, 36 tahun. Dulu Tawa hanyalah pemuda penjaga toko buku kecil di Karet Belakang Jakarta-tempat Hening remaja menukar uang dan puisi diam-diam di balik konter kayu, masa lalu yang tercabut mendadak oleh krisis moneter '98. Kini Tawa adalah pemilik rumah makan ayam kremes yang harus menutup salah satu cabangnya karena pandemi Dua pria ini tumbuh, terluka, lalu berputar di orbit kehidupan yang berbeda-namun selalu gagal benar-benar saling melupakan. Sekeliling mereka, dunia juga berputar: Pandemi memaksa semua orang diam, namun justru di situlah kerinduan dan cinta yang tertunda-sejak remaja, sejak toko buku yang sunyi, sejak dunia berubah jadi lebih takut pada diri sendiri-akhirnya diberi ruang untuk bicara. Di antara ruang tunggu bandara, rapat daring, pesan-pesan WhatsApp, dan lorong kota yang makin sepi, Hening dan Tawa akhirnya menatap lagi semua yang sempat tak selesai.