karalynzell
"Sakit itu hanya tamu yang mampir sebentar, tapi tawa adalah tuan rumah yang harus tinggal selamanya."
Di koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik dan dipenuhi gema langkah kaki yang terburu-buru, ada satu sosok yang berjalan dengan irama berbeda. Bukan langkah berat penuh beban, melainkan langkah ringan yang membawa harapan.
Dia adalah Jaemin.
Dengan jubah putih yang tampak terlalu lebar untuk bahu kecilnya dan topi bedah biru yang selalu terpasang rapi, ia berkeliling dari satu bangsal ke bangsal lainnya.
Di sakunya, tidak ada resep obat yang rumit atau jarum suntik yang menakutkan. Ia hanya membawa tumpukan stiker kelinci, balon warna-warni, dan sebuah keyakinan sederhana: bahwa kebahagiaan adalah separuh dari kesembuhan.
Bagi pasien-pasien yang telah kehilangan warna di wajah mereka, Jaemin adalah pelangi yang muncul setelah badai. Ia tidak hanya mendengarkan detak jantung dengan stetoskopnya, ia mendengarkan bisikan kesedihan yang tersembunyi di balik selimut putih.
Namun, di balik senyum cerahnya yang sanggup melelehkan gunung es, apakah sang "Dokter Kecil" ini juga memiliki luka yang ia sembunyikan di balik plester warna-warni itu?
Ini bukan sekadar cerita tentang pengobatan medis.
Ini adalah perjalanan tentang bagaimana satu nyawa kecil berusaha merangkul seluruh dunia dengan kasih sayang, membuktikan bahwa keberanian tidak diukur dari besarnya tubuh, melainkan dari luasnya hati.