SalshaAlya6
"Umur hanyalah angka," begitu yang Rashel yakini sejak tatapan pertamanya bertemu pria dewasa berwawasan luas itu-Pak Elvano, dosen baru di program studi Ilmu Komunikasi. Ada sesuatu dalam caranya menyampaikan materi, dalam suara tenangnya saat berbagi kisah hidup di depan kelas, yang membuat hati Rashel perlahan bergetar. Tatapan matanya tajam namun selalu menyimpan senyum hangat setiap kali bertemu pandang dengannya. Awalnya Rashel mengira ini hanya kekaguman biasa... tapi mengapa jantungnya berdetak lebih cepat saat namanya disebut? Dan mengapa bayangannya terus hadir bahkan setelah kelas usai?
Apakah ini hanya sekedar kekaguman, atau benih cinta yang mulai tumbuh diam-diam di antara dosen dan mahasiswinya?