sabrinavague
Cerita ini mengisahkan seorang anak perempuan yang tumbuh di antara tawa, tekanan, dan pengkhianatan yang terlalu dini. Berawal dari pertemanan yang tampak ringan-penuh canda dan kebersamaan-ia perlahan didorong melewati batas yang tak pernah ingin ia sentuh. Satu penolakan dianggap kelemahan, satu kepatuhan dijadikan senjata. Dalam ruang sempit bernama "diterima", ia kehilangan hak atas suaranya sendiri.
Ketika potongan kejadian dilihat tanpa konteks dan dibawa ke dunia orang dewasa, kebenaran terpecah seperti kaca: tajam, melukai, dan menyisakan luka yang tak kasatmata. Ia yang dipaksa justru dituding, dijadikan cerita paling mudah untuk dipercaya. Nama baiknya runtuh oleh bisik-bisik, sementara para pelaku bersembunyi di balik diam dan pembelaan diri.
Cerita ini bukan tentang kenakalan, melainkan tentang bagaimana dunia terlalu cepat memberi cap pada seorang anak, dan terlalu lambat belajar mendengar. Sebuah potret getir tentang korban yang dipaksa menanggung malu kolektif, tentang sunyi yang tumbuh dari ketidakadilan, dan tentang kedewasaan pahit yang lahir bukan dari pilihan, melainkan dari luka.