kimak_01
Bagi Arka, rumah bukan tempat untuk pulang, melainkan tempat kerja yang tak pernah memberikan upah. Sebagai anak sulung di keluarga Jawa yang kental, Arka memikul beban tak kasat mata: menjaga rumah tetap rapi, memastikan meja makan selalu penuh, dan menelan setiap makian Mama tanpa sisa.
Arka berbeda. Dia lembut, menyukai aroma bumbu dapur, dan menyimpan trauma perundungan enam tahun masa SD yang membuatnya sering kali dianggap "tidak cukup laki-laki" oleh dunianya sendiri. Di sisi lain, ada Jaka-sang adik yang menjadi "anak emas" Mama meski hidupnya hanya diisi balapan liar dan kantor polisi.
Di rumah itu, Arka adalah kesalahan yang terus berjalan, sementara Jaka adalah luka yang selalu dibela.
Ketika kesabaran itu akhirnya habis tertelan sesak, Arka tersadar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bernapas adalah dengan pergi. Didampingi Lala dan Sisil-dua tameng yang menjaganya dari kejamnya dunia luar-Arka mulai belajar bahwa mencintai diri sendiri berarti berani melepaskan mereka yang tidak pernah menghargainya.
Karena pada akhirnya, tidak semua luka harus sembuh dengan kata maaf. Kadang, luka hanya butuh jarak.