TinyStepStudio
Aku tidak pernah mencari seseorang untuk tinggal.
Selama ini, aku sudah terlalu terbiasa dengan kesendirian. Terbiasa menyimpan luka sendiri, pergi ketika mulai merasa terlalu nyaman, dan meyakinkan diri bahwa tidak membutuhkan siapa pun adalah cara paling aman untuk hidup.
Sampai sebuah project mempertemukanku dengan seorang laki-laki yang awalnya bahkan tidak lebih dari teman bercanda.
Dia sibuk. Aku juga punya hidupku sendiri.
Dia datang dan pergi di sela kesibukannya, menggangguku dengan candaan receh, lalu kembali lagi seolah tidak pernah benar-benar pergi.
Tanpa kusadari, aku mulai menunggu.
Bukan karena dia berjanji akan selalu ada.
Tapi karena, sesibuk apa pun hidupnya, dia selalu kembali.
Dan di antara percakapan-percakapan sederhana, telepon larut malam, tawa, keraguan, dan rasa takut untuk kehilangan, aku mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah kukenal:
Ternyata rumah tidak selalu berupa tempat.
Kadang, rumah adalah seseorang.
Seseorang yang membuatmu ingin tinggal, bahkan ketika seluruh hidupmu mengajarkan untuk pergi.
Dan semuanya bermula dari satu angka kecil.
**143.**
Aku menjawabnya dengan:
**1432.**
*Love you too.*
Kupikir itu hanya candaan.
Ternyata, sejak saat itu, kami mulai saling pulang.