diannafi
Rasya dan Aida, pasangan muda idealis ini, lama kelamaan kerasan juga tinggal di pojok Indonesia. Di bagian paling ujung barat kepulauan Nusantara. Meski jauh dari keluarga di Jawa, tapi toh semuanya masih bisa saling berkomunikasi. Era digital dengan skype sedikit banyak menambah jalur silaturahmi setelah telpon, email dan fesbuk. Ida yang sebenarnya punya kesempatan untuk mendapat beasiswa kuliah S2, terpaksa melepaskan peluang bagus itu. Demi bisa mengikuti ke mana pun Rasya ditugaskan sebagai hakim pengadilan negeri. Sehingga Ida yang sebenarnya sangat cemerlang, harus terima hanya menjadi pegawai biasa. Yang penting bisa satu kota dan satu kantor dengan suaminya yang sangat dia cintai dan hormati.
Hanya saja beban yang tadinya tidak begitu dirasakan, alias berusaha diabaikan, ternyata makin tambah terasa.
Dalam keadaan tinggal dalam lingkungan tanpa jarring pengamanan seperti ini, segala sesuatu bisa terjadi. Dia mengupayakan tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman. Tapi kendalanya adalah biaya. Sedangkan tunjangan yang dijanjikan oleh pemerintah bagi mereka tak juga kunjung turun. Bahkan kesannya alot dan berlarut-larut pelaksanaannya. Berbulan-bulan uang tunjangan bagi para hakim itu entah di mana nyangkutnya. Sulit terlacak.
Kini bukan saatnya mereka pasrah terus akan nasib yang makin tak jelas dan terkatung-katung. Ini bukan masalah uang atau materi. Ini adalah masalah kehormatan dan harga diri bangsa. Berbekal tekad inilah keberanian itu terhimpun dan semakin menguat. Mereka bergerak untuk sebuah tujuan mulia.
Rasya pantang mundur. Baginya kebenaran harus disuarakan. Justru dari dalam korps kehakiman sendiri, ada juga segelintir orang yang hendak menggembosi dan menggagalkan perjuangan yang dipimpin Rasya
Apakah hakim muda ini berhasil memperjuangkan kebenaran dan keadilan?