Raaphell
Bagi Firdaus, takdir tidak pernah memberikan garis start yang mewah. Lahir di tengah keterbatasan ekonomi di Kabupaten Jember, ia hanya dibekali satu hal oleh orang tuanya: doa dan ruang untuk berjuang. Sejak usia belia, ia harus rela dicabut dari tanah kelahirannya, merantau demi menuntut ilmu di Kota Pelajar, Yogyakarta. Di sanalah, di bawah tempaan disiplin organisasi dan matras kader, urat nadinya berubah menjadi kawat dan mentalnya berubah menjadi baja.
Kembali ke Jember sebagai mahasiswa, Firdaus menjelma menjadi singa podium. Ia menahkodai pergerakan sebagai Ketua Umum di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Namun, idealisme kampus tidak serta-merta mengisi dompetnya. Demi mengangkat derajat keluarga, Firdaus melompat ke kerasnya aspal jalanan. Paginya ia memakai almamater, siangnya menjadi makelar motor, sorenya mendorong gerobak chicken katsu di pinggir jalan, dan malamnya cuap-cuap menjadi host live hingga mengecer rokok demi menyambung hidup.
Namun, medan laga paling kejam yang harus dihadapi Firdaus bukanlah kemiskinan, melainkan ego manusia di ruang yang katanya bernama "cinta".
Tiga kali ia menyerahkan ketulusan, tiga kali pula ia dihantam badai penolakan yang mengoyak harga dirinya sebagai lelaki. Ia dibuang karena dibanding-bandingkan dengan kemapanan orang lain, ia dikhianati saat jabatannya sebagai Ketua Umum habis diperas, hingga puncaknya,ia divonis "tidak layak" oleh orang tua sang kekasih hanya karena status sosialnya.
Di titik terendah itu, Firdaus menolak untuk layu. Luka batin itu ia alihkan menjadi bahan bakar brutal untuk bangkit. Jika dunia menganggapnya tidak layak karena berada di bawah, maka ia akan memaksa dunia melihatnya berdiri di tempat tertinggi.
Ini bukan sekadar cerita tentang bagaimana sebuah gerobak katsu jalanan bertransformasi menjadi tiga cabang bisnis yang sukses di Jember dan Bondowoso. Ini adalah manifesto perjalanan seorang pria yang memilih jalan sunyi untuk bergerak dalam senyap, mengagumi dalam diam, dan memantaskan di