dinidahlia
Prolog
"Lo ngapain berdiri lama-lama di depan kelas gue?"
Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya-dilempar begitu saja, tanpa basa-basi, seolah keberadaanku di situ adalah gangguan kecil yang mengusik harinya. Nadanya malas, tatapannya datar, dan gerakan memutar bola matanya sukses bikin aku pengin nepok jidat sendiri.
"Yah elah," gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri daripada ke aku. "Cewek bocil lagi."
Aku menarik napas, menahan diri buat nggak langsung membalas dengan hal yang bakal bikin dia makin males bantu.
"Ayo lah, Met," kataku cepat, sebelum dia keburu memutar badan dan kabur begitu saja. "Tolongin gue bikin tugas video. Sekali ini aja. Demi nilai. Demi masa depan bangsa."
Dia menatapku beberapa detik-lama, dan curiga, seolah aku baru saja menawarkan kerja rodi tanpa upah. Alisnya sedikit terangkat, seakan mempertimbangkan apakah aku serius atau cuma iseng.
Lalu dia menghela napas panjang, dramatis banget, kayak hidupnya barusan dititipin beban negara.
"Ya udah," katanya akhirnya, nada pasrah yang dibuat-buat. "Tapi gue nebeng motor lo. Gratis. Tanpa protes."
Aku baru sadar belakangan: sejak hari itu, hidupku resmi kehilangan kata tenang.
________________________________________
Kami nggak langsung jadi sahabat. Jauh dari itu, malah. Raka-atau lebih tepatnya, Jamet, julukan yang dia benci tapi tetap dia jawab kalau kupanggil-terlalu berisik, terlalu santai, dan punya bakat aneh buat muncul persis di saat-saat aku paling nggak butuh dia ada.
Tapi entah kenapa, hampir setiap hari selalu ada saja hal bodoh yang bikin kami ketawa. Meski, jujur aja, lebih sering aku yang kesel duluan.
Hari itu, aku bergegas ke parkiran bareng dia. Belum sempat aku protes, dia udah nangkring di jok belakang motorku tanpa izin resmi-kayak itu emang haknya dari lahir.
"Dila, lo bisa bawa motor nggak sih?" tanyanya, nadanya ragu, tapi tetap aja nggak turun.
"Diem deh, Met. Gue lagi konsen nyetir biar nggak telat," balasku ketus, mata tetap lurus ke depan.