pinkyprrtyy
Semua orang mengenal Gus Arsyad sebagai putra seorang kiai yang santun, cerdas, dan menjadi tempat bertanya banyak orang. Hidupnya terlihat sempurna dari luar, tetapi tak seorang pun tahu bahwa ia menyimpan ketakutan terbesar: dicintai karena gelarnya, bukan karena dirinya.
Di sisi lain ada Naira, perempuan biasa yang baru memulai perjalanan hijrahnya. Dulu ia mudah lalai, sering meninggalkan salat, dan hidup tanpa arah. Kini, setiap hari adalah perjuangan baru-belajar menutup aurat dengan ikhlas, menjaga pandangan, memperbaiki salat, dan berdamai dengan masa lalu yang terus menghantuinya.
Pertemuan mereka terjadi tanpa rencana.
Bukan di sebuah kafe.
Bukan pula karena kisah cinta pada pandangan pertama.
Melainkan di serambi masjid, ketika Naira menangis karena merasa terlalu banyak dosa untuk kembali kepada Allah.
Arsyad tidak menawarkan cinta.
Ia hanya berkata,
"Allah tidak pernah meminta hamba-Nya menjadi sempurna. Allah hanya meminta kita terus kembali."
Kalimat sederhana itu mengubah hidup Naira.
Sejak hari itu, mereka berjalan di jalan yang sama, tetapi menjaga jarak. Mereka saling mendoakan tanpa saling memiliki. Hingga sebuah fitnah, perbedaan status, dan masa lalu Naira menguji keyakinan mereka.
Benarkah cinta yang dijaga akan menemukan jalannya?
Atau justru Allah sedang mengajarkan bahwa tidak semua yang saling mencintai harus saling memiliki?