julizt
Seonghyeon hidup dalam dunia yang kedap. Sebagai mahasiswa dengan gangguan pendengaran, baginya ruang kuliah hanyalah barisan gerakan bibir yang tak terbaca dan papan tulis yang dingin. Keterasingan adalah teman akrabnya; ia merasa seperti sebuah pulau di tengah samudra manusia yang terus berkomunikasi tanpa dirinya. Keheningannya bukan sekadar fisik, melainkan rasa takut bahwa ia tidak akan pernah benar-benar "didengar" atau dimengerti oleh dunia yang terlalu bising ini.
Di sisi lain, ada Keonho. Hidupnya adalah perlombaan melelahkan melawan kemiskinan. Baginya, kampus bukanlah tempat mencari ilmu, melainkan medan tempur untuk bertahan hidup. Ia adalah mahasiswa yang selalu memakai laptop usang yang sudah tak layak, melewatkan makan siang demi menghemat beberapa won, dan mengambil pekerjaan sampingan sebagai kasir swalayan yang tidak seberapa.
Karena kebutuhan mendesak, Keonho harus mencari pekerjaan tambahan untuk biaya sekolah adiknya, dan secara kebetulan, sahabatnya merekomendasikan pekerjaan sebagai pencatat materi untuk Seonghyeon. Dan dari situ, hubungan keduanya berkembang.
Dalam dunia yang menuntut kesempurnaan, mereka adalah dua jiwa yang "retak". Namun, justru melalui retakan itulah cahaya mulai masuk. Seonghyeon belajar bahwa suara tidak selalu butuh getaran udara, dan Keonho belajar bahwa harga dirinya tidak ditentukan oleh saldo di banknya, melainkan oleh seseorang yang menunggunya setiap hari di barisan depan kelas dengan sebuah senyuman sunyi.
⚠️BxB⚠️