rezkifajriansyah
Darah yang Tidak Pernah Lupa
Gia dilahirkan di atas perahu, di tengah ombak Laut Banda, saat fajar menyingsing dari timur Papua. Ibunya, Mariance Rumagesan, seorang perempuan Tidore yang tidak pernah takut pada badai, melahirkannya sambil memegang sebuah peta tua yang terbuat dari kulit kayu. Peta itu bukan peta biasa. Ia tidak menunjukkan pulau atau selat. Ia menunjukkan garis-garis cahaya yang menghubungkan leluhur.
Darah Gia adalah percampuran dua kerajaan besar Timur Nusantara: Fatagar dari ayahnya, Tidore dari ibunya. Dari ayah, ia mewarisi kemampuan membaca medan - setiap bukit, setiap sungai, setiap pohon beringin berbicara kepadanya dalam bahasa yang tidak didengar orang lain. Dari ibu, ia mewarisi peta itu - dan kutukan yang menyertainya.
Ibunya meninggal ketika Gia berumur sepuluh tahun. Secara resmi, karena sakit. Tapi Gia tidak pernah percaya. Ia ingat malam sebelum ibu pergi, ada sosok hitam berdiri di balik jendela. Ia ingat ibunya berbisik, "Jaga peta ini, Nak. Jaga sampai waktunya tiba. Peta ini akan memanggilmu kembali ke Timur."
Empat belas tahun kemudian, Gia berdiri di hutan Kalimantan bersama tiga sentana lain. Bukan karena peta itu memanggilnya ke Timur. Tapi karena peta itu menunjukkan titik hijau berkedip di pedalaman - seorang sentana dengan kemampuan angin yang belum sadar akan Warisan Darahnya.
Namun di sela-sela misi, peta itu terus berdenyut ke arah lain. Ke arah Timur. Ke arah Papua. Ke arah rumah yang tidak pernah ia kunjungi sejak ibunya meninggal.
Ada sesuatu yang ibu tinggalkan. Dan Wangsa Raksasa, rupanya, juga mencarinya.
Serial ini adalah tentang Gia. Tentang peta yang bernyanyi. Tentang pulang ke akar, sebelum angin topan menghancurkan semua yang ia cintai.