KHALYSA
Aruna Kirana Pradipta selalu percaya bahwa hidupnya terlalu berharga untuk dihabiskan memikirkan hubungan romantis. Sebagai mahasiswi Farmasi di Universitas Nusantara Internasional, ia memiliki satu tujuan yang jelas: membangun karier, melanjutkan studi ke luar negeri, dan membuktikan bahwa seorang perempuan tidak membutuhkan siapa pun untuk meraih mimpinya. Terutama laki-laki. Apalagi laki-laki seperti Aidan Mahendra Wijaya. Mahasiswa Bisnis Internasional yang terkenal tampan, populer, dan memiliki daftar mantan yang bahkan sulit diingat jumlahnya. Bagi Aruna, Aidan adalah definisi berjalan dari kata red flag. Sedangkan bagi Aidan, Aruna hanyalah seorang pegawai paruh waktu di Aurum Coffee yang sama sekali tidak sesuai dengan tipe perempuan yang biasa menarik perhatiannya. Mereka tidak memiliki kesamaan. Tidak memiliki tujuan hidup yang sama. Dan tidak pernah membayangkan masa depan bersama. Namun sebuah pekerjaan paruh waktu mempertemukan mereka di tempat yang sama. Di balik secangkir kopi, mimpi-mimpi yang terlalu besar, masa lalu yang belum selesai, dan kehidupan kampus yang terus bergerak maju, keduanya perlahan membangun sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan. Persahabatan. Persahabatan yang bertahan lebih lama dari hubungan mana pun yang pernah mereka miliki. Persahabatan yang membuat mereka menjadi tempat pulang satu sama lain. Hingga suatu hari mereka dipaksa menghadapi pertanyaan yang selama bertahun-tahun selalu mereka hindari.
Bagaimana jika orang yang selama ini mereka anggap hanya teman ternyata adalah orang yang paling sulit untuk dilepaskan?