nalaevran11
Bagi Alan Fathullah, hidup hanyalah neraca probabilitas, return of investment, dan mitigasi risiko.
Sebagai pengacara korporat elite di Jakarta, ia tahu persis cara memenangkan segalanya di meja hijau. Namun, ketika kemenangan demi kemenangan justru menghancurkan kompas moralnya, Alan mengalami krisis eksistensial. Memilih lari dari realitas ibu kota, ia kembali ke Solo, mencari ruang kedap suara dari kehidupannya yang bising.
Sayangnya, kalkulasi Alan meleset total.
Pelariannya justru menyeretnya ke dalam anomali hukum yang rumit: SMP Islam Dahlia. Sekolah tempatnya menimba ilmu belasan tahun lalu itu kini berada di ambang kebangkrutan dan menjadi target akuisisi konglomerat properti rakus. Di tengah sengketa tersebut, berdiri Syada Aulia Wafira-staf administrasi yayasan yang lembut namun keras kepala, sekaligus variabel masa lalu yang tidak pernah bisa Alan hitung dengan rumus apa pun.
Syada percaya bahwa doa dan niat baik akan menyelamatkan sekolahnya. Alan tahu persis bahwa doa tidak memiliki kekuatan hukum di pengadilan.
Ketika rahasia gelap di balik cacat administrasi SMP Dahlia mulai terkuak, Alan harus mengambil keputusan paling irasional dalam hidupnya. Haruskah ia bertaruh untuk menyelamatkan sekolah yang dikelola oleh wanita yang ia benci sekaligus ia kagumi, atau membiarkan semuanya rata dengan tanah sesuai kalkulasi logika murni?
Sebuah pertarungan absolut antara rasio hukum dan batas nurani.