ibuperimerahjambu
"Ia dipahat dari retak-retak tanah yang mengering, membawa serta gaduh dunia yang menolak lelah. Sementara perempuan itu lahir dari muara ratap, merawat sunyi dalam dekap yang enggan melonggar."
Ada jurang tak bertepi yang sengaja dipelihara di antara dua debar yang saling mengeja. Narendra Fitrah Priadi
mencintai dengan badai yang menderu-mendesak, menghantam, memaksakan ketulusan dalam bahasa-bahasa kasar yang kerap salah diartikan semesta.
Namun, di seberang titian, Senja Kalyani Swastika
adalah benteng kaca yang rapuh oleh hampa; perempuan yang gemetar ketakutan setiap kali kehangatan mencoba merayap masuk, menganggap setiap rasa memiliki sebagai gerbang menuju karam yang lebih linu.
Mereka terperangkap dalam tarian ego yang saling menyayat, menubrukkan ketakutan purba pada kerasnya kepala, hingga cinta menjelma dosa yang paling disembunyikan.
Ketika segala asa terhimpit di antara sisa-sisa sesal dan angkuhnya sunyi, masihkah tersisa satu lafaz suci untuk menautkan takdir, memeluk hancur, dan mengucap amin paling penghabisan?
*⚠️ **Disclaimer:** !!!!
Naskah ini murni fiksi alternatif semata. Seluruh lakon, laku, dan lara di dalamnya tidak memiliki tautan apa pun dengan napas, sukma, maupun takdir dunia nyata para pesohor yang bersangkutan. Kebijaksanaan pembaca adalah mutlak.