shadowdwson
Dunia mungkin menganggapnya tak bersuara, tetapi di dalam keheningannya, ada ketulusan yang sanggup meruntuhkan tembok kebencian terkeras sekalipun."
Bagi Darrel (16 tahun), dunia adalah sebuah ruang mahaluas tanpa gelombang suara. Terlahir tuli di tengah keluarga berada yang menjunjung tinggi kesempurnaan, keberadaan Darrel dianggap sebagai noda dan beban yang membawa kesialan. Ibu yang dingin, Kakak yang pendendam, serta adik-adik kembar yang malu akan kondisinya, menjadikan rumah dua lantai tempat ia tumbuh terasa seperti kurungan paling dingin di dunia.
Satu-satunya pelita bagi Darrel adalah Ayah pria yang rela memasang dadanya sebagai perisai dan Bang Dhika, abang sulungnya yang selalu menjadi penerjemah dunianya. Lewat jemari tangan yang menari dan kanvas warna-warni, Darrel belajar menuangkan tawa, luka, dan doa yang tak pernah sanggup diucapkannya.
Namun, badai besar menghantam ketika Ayah jatuh koma akibat serangan jantung mendadak, dan Bang Dhika harus pergi merantau demi mengejar impian kuliahnya.
Kini, Darrel ditinggal sendirian di dalam rumah yang sepenuhnya menolaknya. Tuduhan, penolakan, dan krisis keuangan mulai menggerogoti sisa-sisa keharmonisan keluarga mereka. Tanpa suara Ayah dan tanpa perlindungan abangnya, Darrel harus belajar berdiri di atas kakinya sendiri.
Di tengah badai prasangka yang kian pekat, Darrel memilih untuk tidak membalas dengan dendam. Melalui aksi-aksi sunyi, pengorbanan yang mempertaruhkan nyawa, dan kehangatan yang tak pernah padam, anak laki-laki yang dianggap "cacat" ini justru menjadi satu-satunya pelita yang menyelamatkan keluarganya dari kehancuran total.
Akankah keheningan Darrel akhirnya didengar oleh hati orang-orang yang dicintainya?