sophia_sunrest
"Ojo lali boso lo, Nduk."
Kalimat itu selalu diucapkan nenek setiap kali Arum hendak pergi. Namun, sebagai mahasiswi yang tumbuh di tengah arus modernisasi, ia menganggap bahasa Jawa-terutama krama-tak lebih dari pelajaran sekolah yang lambat laun akan terlupakan.
Hingga sebuah tugas kuliah membawanya bertemu seorang tetua desa. Di hadapan bahasa yang tak lagi fasih ia ucapkan dan aksara yang tak mampu ia baca, Arum menyadari bahwa yang perlahan hilang bukan sekadar kata-kata, melainkan adab, penghormatan, dan akar yang selama ini membentuk jati dirinya.
Sebab, bahasa bukan hanya alat untuk berbicara.
Ia adalah busana yang dikenakan manusia untuk menghormati sesamanya.
***
Cerpen ini lahir dari keresahan sederhana: semakin banyak anak muda yang fasih menggunakan bahasa asing, tetapi mulai canggung menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Padahal, di balik setiap tutur kata tersimpan nilai, unggah-ungguh, dan cara menghormati yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Semoga kisah Arum dapat menjadi pengingat bahwa menjaga bahasa bukan berarti menolak perubahan, melainkan merawat salah satu akar yang membentuk jati diri kita.
"Basa iku busanane bebrayan."
(Bahasa adalah busana dalam pergaulan manusia.)
#UNTUK DIBACA BUKAN DICOPY PASTE