Willyantoni
Desiran ombak terlihat saling berkejaran, berlomba untuk memenangi perlombaan, seakan ingin menjadi yang tercepat menuju ke tepian pantai, angin juga tak mau kalah, saling bertarung menjadi yang terhebat, cahaya matahari yang membelai sayu membelai kulit ArWinsen.
Seakan mati rasa Winsen tak peduli dengan nyanyian ombak. Beberapa kali deburan ombak menyentuh kakinya, dia terdiam meratap ke depan, matanya tak menunjukan sinar yang biasanya, ada luka yang mendalam, ingatannya dengan liar membimbingnya menuju kenangan-kenangan yang terpatri dengan jelas di ingatannya.
Senyum itu terutas dari bibirnya, air mata yang turun tak sempat berevaporasi dan terlanjur tertarik gravitasi, perlahan tapi pasti air mata itu mengalir dari mata indahnya, terlalu sakit beban yang ia pikul saat ini.
"Ya, ini yang terbaik" yakinnya dalam hati, beberapa kali dia merasa ingin mengurungkan niatnya, beberapa kali juga bisikan itu datang, suara-suara terdengar berdengung di telinganya, tak ia dengar jelas, kali ini dia hanya ingin mengikuti kata hatinya.
Ombak yang beriak seakan memberi restu, semakin yakin hatinya, sudah mantap langkah yang ia tempuh,
"Tenang saja sayang, kamu tak akan lagi kesepian lagi, tunggu aku sebentar lagi" senyum itu kembali tergambar di wajahnya, melihat bayangnya di cerminan air membuat yakin kembali hati Winsen.
************
salam William Wil