asadsulthoni
Menjadi guru itu harusnya penuh wibawa. Tapi bagi Risyad, seorang mantan barista gondrong sekaligus pebisnis ikan predator, melangkah ke dunia pendidikan justru menjadi awal dari rangkaian uji nyali yang di luar nurul.
Dari syok budaya menerima gaji pertama senilai Rp168.000 di sekolah pinggir empang, menghadapi drama potongan absen fingerprint, hingga menyaksikan ironi para pejabat dinas yang rutin di-amplopin di atas penderitaan guru honorer. Risyad mengira kepindahannya ke Yayasan baru yang super mewah dan ber-AC adalah sebuah solusi. Namun, realita dunia sekolah tidak pernah sesederhana itu.
Bermodal ijazah SMA dan nekat, jiwa operatornya meronta melihat fasilitas lab komputer puluhan juta telantar demi "tradisi menumpang" ujian. Risyad pun pasang badan mengambil alih sistem, "tes sinyal" pakai game DOTA 2, hingga nekat memotong jalur birokrasi. Sialnya, belum juga kering keringat membenahi server ANBK, sebuah mosi percaya mendarat telak di pundaknya hanya karena satu alasan mutlak dari Kepala Sekolah: "Pak Risyad kan lulusan pesantren..."
Dari dunia kabel LAN, si anak baru ini dipaksa mudik dadakan ke ranah religi demi mengurus hajat Pentas PAI. Mampukah Risyad bertahan di tengah kepungan berkas administrasi dan kerja rodi, atau justru memilih pulang untuk memanen dua kwintal lele di rumahnya?