surasulthon
Okhan tumbuh sebagai anak laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara. Ibunya meninggal ketika ia masih duduk di bangku SD, meninggalkan rumah yang retak dan hati yang sunyi. Ayahnya, terlalu tenggelam dalam luka dan pekerjaan, tak pernah hadir sebagai pelindung atau tempat pulang. Kakak pertama terpaksa dewasa terlalu dini, mengambil peran ibu tanpa pernah ditanya apakah ia ingin. Kakak kedua rapuh, selalu butuh pengertian, dan tak pernah siap menghadapi kenyataan. Di tengah keluarga yang nyaris tanpa cinta, Okhan tumbuh dengan jiwa yang kosong-kehilangan arah, kehilangan rasa. Ini adalah kisah tentang bagaimana kehilangan bisa menjadi warisan, dan bagaimana cinta yang hilang bisa menciptakan luka paling dalam.