Lgbtindonesia Stories

Refine by tag:
lgbtindonesia
lgbtindonesia

5 Stories

  • Count on Me by caramelcrispyy
    caramelcrispyy
    • WpView
      Reads 402
    • WpPart
      Parts 2
    Gisa adalah salah satu primadona di kantorku, usia nya yang masih cukup muda dan attitude yang ia miliki membuat semua orang menyukainya. Parasnya, penampilannya, bahkan kinerjanya pun sangat brilliant. Butuh waktu 3 tahun untuk dapat berbincang santai dengan Gisa. Biasanya kami hanya bicara seperlunya saat ada job yang mempertemukan kami dalam tim yang sama, itupun sangat jarang terjadi. Suatu hari, atasan kami menugaskan kami bekerjasama menyelesaikan sebuah proyek yang sangat penting bagi keberlangsungan perusahaan. Lalu, sesuatu terjadi...
  • Biarkan aku yang pergi by user87259713
    user87259713
    • WpView
      Reads 199
    • WpPart
      Parts 2
    Semuanya terlalu sulit untuk di jalani kala cinta yang pernah ada mulai sirna dan hanya kesunyian yang mulai menemaninya. Jean berada dalam pilihan yang berat, melepaskan atau bertahan dengan rasa sakit.
  • Nyekar by bintarobastard
    bintarobastard
    • WpView
      Reads 961
    • WpPart
      Parts 12
    Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai staf rumah tangga kepresidenan, Senja kembali ke kampung halamannya di Magelang. Tak ada alasan besar. Tak ada pengumuman. Ia hanya ingin menziarahi makam kedua orang tuanya, menata bunga, membersihkan nisan, dan memberi waktu pada dirinya sendiri untuk diam. Magelang menyambutnya tanpa kejutan. Rumah lamanya masih berdiri di timur alun-alun, dengan pintu kayu yang berderit dan debu yang mengendap seperti waktu yang tak pernah benar-benar berjalan. Di kamar tidurnya yang sempit dan sunyi, Senja menemukan sebuah kotak sepatu tua di bawah ranjang-dan di dalamnya, selembar surat. Surat yang pernah ia tulis, bertahun-tahun lalu, kepada seseorang yang pernah mengguncang hatinya dalam diam: Kilat Kidung Swargaloka, teman masa seminari yang membuatnya meragukan banyak hal, termasuk dirinya sendiri. Mereka tidak pernah saling mengucap. Tidak pernah saling bersentuhan lebih dari kata-kata di kelas atau bisikan doa malam. Tapi dalam surat itu, Senja sempat menulis apa yang tak pernah berani ia ucapkan. Kini, membaca ulang tulisan tangannya sendiri, Senja tak mencari pengampunan atau penjelasan. Ia hanya mencoba memahami kenapa hal-hal kecil yang tertinggal bisa terasa lebih tajam dari kehilangan itu sendiri. "Nyekar" bukan kisah tentang pertemuan. Bukan tentang cinta yang sempat mekar dan layu. Tapi tentang keberanian untuk kembali, untuk mengingat, dan untuk meletakkan sesuatu yang lama tertahan di tempat yang lebih tenang. Ini adalah perjalanan pulang yang tanpa peta, hanya didorong oleh perasaan bahwa sesuatu di masa lalu belum selesai-dan barangkali tak harus diselesaikan, cukup diterima.
  • 19 by bintarobastard
    bintarobastard
    • WpView
      Reads 1,237
    • WpPart
      Parts 24
    Di awal tahun 2020, dunia mendadak remuk oleh pandemi. Solo dan Jakarta-dua kota yang biasanya riuh oleh lalu-lalang manusia-tiba-tiba membisu, menahan napas di antara deru sirene ambulans dan pengumuman lockdown. Di tengah krisis ini, dua pria yang hampir kehilangan dirinya sendiri justru menemukan kembali jejak masa lalu yang sempat mereka kubur rapat-rapat. Hening Sandikala, 35 tahun, seorang pelukis melankolis yang baru saja menggelar pameran tunggal di galeri tua Mangkunegaran, Solo, bersiap pulang ke Jakarta. Ia telah lama membiasakan diri hidup di bayang-bayang kanvas, cat minyak, dan keraguan-sendirian, berpindah-pindah kota, ditemani sahabat setia seperti Devi si kurator galeri yang vokal, atau Nyi Samiyem, ibu kos klasik yang terlalu peka membaca isi hatinya. Di bandara Adi Sumarmo yang lengang, ketika semua orang menunggu hasil swab test, Hening bertemu lagi dengan sepasang mata yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya-Tawa Suryanegara, 36 tahun. Dulu Tawa hanyalah pemuda penjaga toko buku kecil di Karet Belakang Jakarta-tempat Hening remaja menukar uang dan puisi diam-diam di balik konter kayu, masa lalu yang tercabut mendadak oleh krisis moneter '98. Kini Tawa adalah pemilik rumah makan ayam kremes yang harus menutup salah satu cabangnya karena pandemi Dua pria ini tumbuh, terluka, lalu berputar di orbit kehidupan yang berbeda-namun selalu gagal benar-benar saling melupakan. Sekeliling mereka, dunia juga berputar: Pandemi memaksa semua orang diam, namun justru di situlah kerinduan dan cinta yang tertunda-sejak remaja, sejak toko buku yang sunyi, sejak dunia berubah jadi lebih takut pada diri sendiri-akhirnya diberi ruang untuk bicara. Di antara ruang tunggu bandara, rapat daring, pesan-pesan WhatsApp, dan lorong kota yang makin sepi, Hening dan Tawa akhirnya menatap lagi semua yang sempat tak selesai.
  • diet pepsi by bintarobastard
    bintarobastard
    • WpView
      Reads 763
    • WpPart
      Parts 14
    Fajar, seorang HRD di perusahaan startup Jakarta, menjalani hidup seperti spreadsheet: rapi di permukaan, hampa di dalam. Ia baru saja keluar dari hubungan gelap dua tahun dengan seorang pria beristri-kisah yang tidak pernah benar-benar dimulai, dan justru membusuk dalam diam. Sejak itu, hidup Fajar tersusun dari denial dan Diet Pepsi. Ia tidak menyebut dirinya kesepian, hanya "sibuk." Ia tidak bilang dirinya terluka, hanya "butuh waktu." Tapi setiap pagi, ia meneguk soda dingin di kos-kosan kecilnya dan berharap tubuhnya tidak terasa terlalu nyata. Malam-malamnya dipenuhi gula sintetis, makanan delivery, notifikasi kosong, dan pertanyaan dalam kepala yang tidak pernah dijawab. Hingga suatu malam, di depan kulkas minimarket 24 jam, ia bertemu seorang laki-laki eksentrik yang memanggilnya dengan cara yang belum pernah dilakukan siapa pun: lewat tubuhnya. Bukan rayuan. Bukan ancaman. Tapi lewat rebusan jahe, lewat larangan halus untuk tidak memesan ojek, lewat tantangan untuk jalan kaki dua blok. Namanya Kelam. Ia hadir seperti seseorang yang tidak pernah diundang, tapi entah kenapa tahu seluruh isi lemari Fajar-termasuk yang terkunci rapat. Kelam membawa botol jamu, jaket tambalan, dan logika dunia yang tidak selalu rasional. Tapi kehadirannya membuat waktu terasa lebih lambat. Lebih penuh. Lebih menakutkan. Karena yang paling Fajar takuti bukan orang asing... Tapi orang yang melihatnya terlalu jelas, tanpa pernah diminta. Siapa sebenarnya Kelam? Kenapa ia tahu terlalu banyak? Dan kenapa tubuh Fajar merasa lebih hidup setiap kali ia datang? Pertemuan ini membuka satu pintu kecil dalam hidup Fajar. Pintu yang tidak pernah ia berani buka sendiri. Tapi setelah terbuka... tak ada yang bisa kembali persis seperti sebelumnya.