Yanchuruchu
Kedamaian di tujuh benua selama ini tak lebih dari ilusi murahan. Urat nadi dunia tidak dikendalikan oleh ribuan prajurit, tapi oleh sepotong roti dan selembar surat utang.
Myrantha mengunci leher benua lain lewat monopoli gandum dan racun. Xylarath mencetak senjata dari tambang-tambang besi berdarah mereka. Dan Ondoril duduk manis di atas ombak, mencekik siapa saja yang berani meminjam koin mereka.
Tapi semua rantai busuk itu hancur dalam satu malam. Seorang penguasa Myrantha tewas diracun di tengah jamuan makan. Fitnah menyebar, disusul embargo gandum yang mematikan. Tanpa pasokan pangan, jutaan buruh tambang Xylarath kini menatap ancaman mati kelaparan. Di saat bersamaan, jenderal-jenderal Zoryath mulai melepas kavaleri monster mereka karena jatah upeti berhenti.
Tiga pemuda terseret paksa ke dalam pusaran ini.
Di istana Myrantha, Tharon terjebak. Sebagai putra jenderal utara yang dijadikan sandera politik, ia terbiasa dengan pedang, bukan racun. Namun ia harus nekat membongkar dalang pembunuhan itu sebelum keluarganya habis dibantai.
Jauh di lautan lepas, Darian nyaris gila. Kapten muda dari armada Ondoril ini tercekik utang warisan ayahnya. Demi lolos dari cengkeraman bankir, ia tak punya pilihan selain mengambil rute pelayaran bunuh diri menuju hutan abu terlarang.
Lalu ada Vorn. Buruh tambang kasta bawah di Xylarath ini sama sekali tak peduli pada urusan takhta. Paru-parunya sudah nyaris hancur digerogoti debu. Niat awalnya cuma satu: mencari celah untuk kabur. Sialnya, usahanya menyelinap malah membuat Vorn tersandung konspirasi gelap di dasar reruntuhan purba.
Namun, masalah utamanya bukan sekadar perang perebutan kekuasaan. Di saat para bangsawan sibuk saling tikam, menara-menara raksasa peninggalan Zaman Pertama yang tertancap di tiap benua mulai bergetar. Sesuatu yang sangat kuno baru saja terbangun.
Manusia mungkin sedang sibuk menyalakan api perang dunia. Tapi jika mereka tak segera sadar apa yang menanti di balik menara itu, rasanya tak