rezkifajriansyah
Dia tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Tapi takdir tidak pernah meminta izin.
Ketut Ariawan, penari dari Ubud, hidup dalam dua dunia. Satu dunia: tari dan upacara, senyum Luh Ayu di sanggar, dan suara gamelan yang mengalun lembut. Dunia lain: Warisan Darah, panggilan leluhur, dan bayang-bayang Wangsa Raksasa yang mengintai dari kegelapan.
Sebagai sentana keturunan Kerajaan Warmadewa, ia mewarisi Tari Hujan - kemampuan untuk memicu fenomena alam hanya dengan gerakan. Tapi kemampuan itu tidak pernah ia kuasai sepenuhnya. Setiap kali ia menari, hujan yang ia panggil bisa menjadi badai. Gempa yang ia picu bisa meruntuhkan desa.
Kini, purnama terkuat tahun ini akan segera tiba. Para pemangku di Pura Besakih bersiap menyambut Presiden Nuswantara. Dan Wangsa Raksasa, yang tidak pernah tidur, melihat momen ini sebagai kesempatan sempurna: serangan gaib yang akan menewaskan pemimpin bangsa dan meruntuhkan Pagar Nusantara.
Satu-satunya harapan adalah Ketut. Ia harus menari di pusat pura, memperkuat perisai kuno yang diwariskan leluhurnya - kakek buyut I Gusti Ngurah Tari, yang gugur di tempat yang sama ribuan tahun lalu.
Tapi hati Ketut tertambat pada Luh Ayu, penari biasa yang tidak tahu bahwa dunia yang ia kenal akan hancur jika Ketut gagal. Ia berjanji akan kembali. Tapi di atas panggung suci itu, tarian tidak pernah menjanjikan keselamatan.
Serial 3: Ketut - Tarian Penghancur adalah kisah tentang seorang penari yang belajar bahwa terkadang, melindungi orang yang dicintai berarti rela berpisah. Sementara di lereng Gunung Agung, bulan semakin membesar. Dan kegelapan mulai merangkak.