heeraofjannah
"Sera, nanti kita bisa jalan-jalan bareng ke London, kan?"
Zawa bertanya dengan mulut masih penuh ayam penyet. Di sampingnya, Paul hanya tertawa sambil menyeruput jus buah naga.
"InsyaAllah pasti bisa." Sera tersenyum. "Ya, kan, Paul?"
Mereka bertiga tertawa. Saat itu, tidak ada yang tahu bahwa mimpi sederhana yang lahir di kamar Mina 7 akan membawa mereka melintasi ribuan kilometer dari pesantren tempat mereka tumbuh.
Tidak ada yang tahu bahwa suatu hari nanti, di kota yang selama ini hanya mereka lihat di layar ponsel, Sera akan bertemu seseorang yang mengubah hidupnya.
Seseorang yang diam-diam menyebut namanya dalam doa.
Seseorang yang seharusnya tidak ia cintai.
"Kalau saya minta satu hal kepada Tuhan, itu kamu."
Sera terdiam.
Untuk pertama kalinya, Sebastian Abimanyu Wirasena tidak menyembunyikan apa pun di balik tatapan tenangnya.
"Mas Ian...."
"Saya tahu." Pria itu tersenyum tipis. "Saya tahu ini rumit."
Karena memang rumit.
Sera dan Sebastian dipertemukan oleh mimpi yang sama, perjalanan yang sama, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin.
Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa mereka abaikan.
Keyakinan mereka berbeda.
Di saat Sebastian berharap takdir akan membawa Sera kepadanya, Sera justru bertanya-tanya apakah cinta harus selalu diperjuangkan, atau ada kalanya cinta harus dilepaskan demi sesuatu yang lebih besar.
Karena tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan untuk kita miliki.
Dan tidak semua doa berakhir dengan kata amin.
Sebuah kisah tentang mimpi yang membawa tiga sahabat dari kamar Mina 7 ke London, tentang pertemuan yang tak terduga, dan tentang dua hati yang dipaksa memilih antara cinta atau keyakinan.