nctidol
Kalo lo mati kedinginan di sini, gue repot nanti harus ngasih napas buatan. Dan sorry to say, gue pemilih soal bibir." - Arlo.
Arunika (Runa) mendaki Merbabu cuma punya satu tujuan: Healing dari trauma dikhianati temen kantor. Tapi alih-alih dapet ketenangan, dia malah ketinggalan rombongan di jalur Selo gara-gara sendal gunungnya putus. Di tengah kabut pekat jam dua pagi, Runa ketemu Arlo.
Cowok itu misterius, pake techwear serba hitam, baunya sandalwood yang candu, dan punya pick-up lines yang bikin jantung Runa marathon lebih kenceng daripada nanjak di Tanjakan Setan.
Arlo itu red flag tapi dia protektif, physical touch, tapi dia juga penuh rahasia.
"Lo jangan baper, Run. Ini taktik survival. Tapi kalo lo mau baper juga nggak papa, tanggung jawabnya gampang. Gue tinggal nikahin lo pas turun nanti."
Runa kira Arlo adalah takdirnya. Sampai sebuah fakta menghantamnya di puncak Kenteng Songo: Tim SAR bilang Arlo itu nggak pernah ada di daftar pendaki hari itu.
Lalu, siapa cowok yang genggam tangan Runa sepanjang jalur pendakian? Siapa cowok yang napasnya masih terasa hangat di leher Runa?
Antara mitos gunung, astral projection, dan perasaan yang terlanjur jatuh di ketinggian 3142 mdpl. Runa harus milih: Turun ke kenyataan yang pahit, atau tetap di puncak bareng 'dia' yang nggak nyata?