dinidahlia
Prolog
"Lo ngapain berdiri lama-lama di depan kelas gue?"
Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.
Nadanya malas, tatapan datar, lengkap dengan gerakan memutar bola mata yang sukses bikin aku pengin nepok jidat sendiri.
"Yah elah," gumamnya pelan. "Cewek bocil lagi."
"Ayo lah, Met," kataku cepat sebelum dia keburu kabur. "Tolongin gue bikin tugas video. Sekali ini aja. Demi nilai. Demi masa depan bangsa."
Dia menatapku beberapa detik. Lama. Curiga.
Seolah aku baru saja nawarin kerja rodi.
Lalu dia menghela napas panjang, dramatis, kayak hidupnya barusan dititipin beban negara.
"Ya udah," katanya akhirnya. "Tapi gue nebeng motor lo. Gratis. Tanpa protes."
Sejak hari itu, hidupku resmi kehilangan kata tenang.
Kami tidak langsung jadi sahabat. Jauh dari itu. Dia terlalu berisik, terlalu santai, dan punya bakat muncul di saat-saat yang sama sekali tidak aku butuhkan. Tapi entah kenapa, hampir setiap hari selalu ada saja hal bodoh yang bikin kami ketawa-meski seringnya aku yang kesel duluan.
Aku bergegas ke parkiran bersama Raka, atau lebih tepatnya... Jamet, julukan yang dia benci tapi tetap dia jawab kalau kupanggil.
Aku naik motor, dan tanpa izin resmi, dia langsung membonceng.
"Dila, lo bisa bawa motor nggak sih?" katanya ragu.
"Diem deh, Met. Gue lagi konsen nyetir biar nggak telat," balasku ketus.