nitalaras_
Saat mengagumi menjadi lebih indah dari apapun,
Selayaknya aku hanya ingin terdampar pada detik ini,
Detik-detik mengagumi bayangmu,
Hanya bayangmu.
Pada ujung pikiran ini hanya ada sosokmu,
Dambaan bagi ketenangan batin yang tak pernah ternilai
Semangat kehidupan yang semu, namun melenakan
Aku masih sama seperti makhluk lain,
Yang ingin menatap esok penuh cahaya harapan,
Namun sejatinya sebuah semangat,
Belum ada yang hadir barang sesaat.
Datanglah meski sebentar,
Muncullah meski sekelebat,
Agar ku dapat memandangmu
Merasakan betapa indahnya senyum itu,
Senyum yang selalu kenikmati secara diam-diam,
Sekadar memenuhi hausnya hati ini akan sebuah kedamaian.
Aku berpikir bahwa senja akan selalu menemani diri ini dengan hangat dan damainya. Meskipun aku tahu bahwa sejatinya itu hanya semu. Seperti halnya senja yang mempertemukanku dengan pelangi ketika hujan reda. Kemudian senja membawanya pergi kembali seiring dengan kepergiannya. Hingga pada akhirnya aku menyadari, baik pelangi maupun senja bukanlah sesuatu yang abadi. Senja memperkenalkanku pada pelangi. Tetapi bukanlah pelangi yang membahagiakan, tetapi pelangi yang menciptakan kesejahteraan cinta yang hilang. Bukan untuk dinikmati siapapun. Bukan oleh aku, kamu, apalagi kita.