Historias de Pemulung

Buscar por etiqueta:
pemulung
pemulung

4 Stories

  • MENJEMPUT PAPA por Ernietee_99
    Ernietee_99
    • WpView
      LECTURAS 322
    • WpPart
      Partes 3
    Orang tua Lira (7 tahun) bertengkar. Papanya pergi dengan kekasih barunya. Sang Mama stress dan mengabaikannya. Teman-teman sekolah, mencemooh, menyebutnya "Anak Tanpa Papa". Lira memutuskan pergi mencari papa dan menjemputnya pulang. Masalahnya, dia tidak mempunyai alamatnya. Dia tersesat. Saat ingin kembali, dia tidak tahu alamat rumahnya. Lira bertemu dengan Aril, anak pemulung yang juga sebatang kara. Akankah nasib baik menghampiri mereka? Atau malah sebaliknya?
  • Pinggiran Kota Besar por bisotisme
    bisotisme
    • WpView
      LECTURAS 400
    • WpPart
      Partes 2
    Saat ribuan manusia berdesak-desakan dalam arus sentimentil demi sebuah seremonial bernama lebaran dengan baju baru dan perhiasan yang wah untuk bermegah-megah di kampung halaman. Ani dan suaminya menyambut Idul Fitri dengan jiwa yang baru, semangat baru akan kebermaknaan kehidupan. Di sini, hanya dia, suaminya dan Tuhan. Kesatuan yang tak pernah dapat dipisahkan, bersatu dalam cinta. "Gak usah sedih, ni. Kita juga mudik, jiwa kita mudik ke dalam hati, tempat Sang Maha Pengasih bertahta" hibur suaminya "Kampung kita yang sebenarnya adalah di mana nanti kita dikubur ni" lanjutnya.
  • PEREMPUAN BERKEPANG DUA por EveRoberto
    EveRoberto
    • WpView
      LECTURAS 100
    • WpPart
      Partes 1
    Kisah dua pengamen cilik yang terlantar di tengah kerasnya ibu kota
  • Kumpulan Cerpen Kehidupan: Langkah-Langkah yang Tak Pernah Menyerah por Abdicatio
    Abdicatio
    • WpView
      LECTURAS 129
    • WpPart
      Partes 6
    Kumpulan cerpen ini memuat potret kehidupan masyarakat kelas bawah yang sederhana namun sarat makna. Melalui narasi yang lembut dan penuh empati, penulis menyajikan enam cerita yang berfokus pada keteguhan, kasih sayang, dan harapan dalam kesederhanaan. Para tokoh-seperti pasangan lansia penjual kerupuk, ibu yang mengolah tepung menjadi "masakan terenak," hingga anak-anak pemburu besi tua dan bocah penjual kue subuh-dihadirkan dengan humanis. Mereka adalah simbol ketabahan menghadapi kerasnya hidup, namun tetap mampu menciptakan cinta, kehangatan, dan cita-cita, walau dari hal-hal paling kecil dan rapuh. Cerpen-cerpen ini mengajak pembaca menunduk sejenak, melihat kehidupan dari sudut gang, dari pinggir trotoar, dari pasar subuh, dan dari dunia anak-anak yang bersinar dalam gelap. Ceritanya kelam, namun selalu diselingi tawa kecil, harapan samar, dan pelajaran diam-diam tentang apa arti menjadi manusia.