tycoonrom
Maret tidak pernah benar-benar berlalu. Bagi dunia, ia hanya sebuah bulan di dalam kalender. Namun bagiku, Maret adalah titik di mana waktu dipaksa berhenti, tepat di saat satu-satunya sandaran hidupku runtuh ke tanah.
Ketika orang-orang di luar sana sibuk bergerak maju-menyelesaikan kuliah, menapak karier, dan merayakan kehidupan-aku justru terjebak sebagai asing di duniaku sendiri. Menyalakan mesin motor di jam-jam yang tidak masuk akal tanpa tujuan, menatap linimasa yang menyakitkan, dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang terasa seperti sembilu.
Di mata mereka, aku hanyalah pemuda yang kehilangan momentum dan membuang waktu. Mereka tidak tahu bahwa setiap hari, kesibukanku adalah menata ingatan agar tidak terkubur debu.
Di tengah rumah yang sepi dan teras yang melepaskan bau masa lalu, aku menemukan satu-satunya cara untuk tetap waras: melanjutkan obrolan yang terputus. Melalui kursi kayu yang kosong, aroma tembakau yang melintas sekilas, dan kepulan asap imajiner, sebuah dialog batin dimulai. Sebuah debat yang tidak lagi mencari siapa yang menang, melainkan cara terakhir untuk merawat ingatan tentang Ayah.
Dialog Setelah Maret adalah sebuah memoar duka yang jujur, getir, sekaligus hangat. Ini bukan cerita tentang bagaimana menyembuhkan luka hingga hilang tanpa bekas, melainkan tentang bagaimana memungut kembali harga diri yang berserakan, berdiri di atas reruntuhan, dan belajar berjalan bersama parut yang permanen. Sebuah penegasan bahwa kematian mungkin bisa memisahkan raga, namun ia tidak akan pernah bisa menghentikan sebuah percakapan.