erpeeee
Bejo88 si pengembara-begitulah orang-orang mulai memanggilnya. Bukan tanpa alasan, karena ia jarang sekali terlihat diam di satu tempat dalam waktu lama. Hatinya selalu gelisah, bukan karena masalah, tapi karena rasa ingin tahu yang tak pernah habis. Dunia baginya terlalu luas untuk hanya dipandang dari satu sudut saja.
Setiap perjalanan yang ia lakukan selalu punya cerita. Ia pernah berdiri di tengah panasnya gurun di Mesir, menatap megahnya Piramida Giza dan merasakan betapa kecil dirinya dibanding sejarah. Ia juga pernah menyusuri lebatnya Hutan Amazon di Brasil, belajar bahwa alam bukan untuk ditaklukkan, tapi dihormati.
Namun menjadi pengembara bukan berarti hidupnya selalu mudah. Ada malam-malam di mana ia harus tidur di tempat asing, mendengar suara yang tidak dikenalnya. Ada hari-hari di mana ia merasa lelah dan hampir menyerah. Tapi setiap kali itu terjadi, ia selalu ingat alasan awalnya berjalan: untuk melihat, belajar, dan memahami.
Yang membuat Bejo88 berbeda adalah cara ia memaknai perjalanan. Ia tidak mencari kemewahan atau popularitas. Ia justru menikmati hal-hal sederhana-berbicara dengan orang baru, mencicipi makanan lokal, atau sekadar duduk diam melihat matahari terbenam di tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya.
Di setiap tempat, ia selalu membawa pulang sesuatu yang tak terlihat: pengalaman, pelajaran, dan cara pandang baru. Ia menjadi lebih sabar, lebih terbuka, dan lebih menghargai perbedaan. Orang-orang yang bertemu dengannya sering merasa seperti mendengar cerita dari dunia lain, padahal semua itu nyata.
Suatu hari, seseorang bertanya, "Sampai kapan kamu akan terus mengembara, Bejo88?"
Ia tersenyum, lalu menjawab pelan, "Sampai rasa penasaran ini habis... dan sepertinya, itu tidak akan pernah terjadi."
Dan begitulah, Bejo88 si pengembara terus melangkah. Bukan untuk lari dari sesuatu, tapi untuk mendekati pemahaman-tentang dunia, tentang manusia, dan tentang dirinya sendiri.