aksara_renjana_iat
Jika Tuhan itu seperti matahari, mengapa aku merasa seolah-olah menatap-Nya dari balik tirai yang tebal?"
Sebagai putra bangsawan Toraja, hidup Elias Andi Palantik telah dipahat rapi di atas megahnya tiang Tongkonan. Ia memikul Siri'-harga diri sukunya yang dibayar mahal lewat pengorbanan adat. Namun, di dalam dadanya, ada kerinduan yang tak bernama. Sebuah renjana spiritual yang membuatnya merasa terkurung di dalam menara tanpa jendela.
Perjalanan membawa Elias turun ke pesisir Palopo, Bumi Sawerigading. Di tanah Luwu yang sakral ini, desau angin Teluk Bone membawa suara azan yang menggetarkan nadinya. Melalui lembaran naskah Lontara kuno yang berdebu dan bimbingan Opu Daeng Matutu, Elias menemukan rahasia kelam tentang sebuah nama yang sengaja dicoret dari silsilah keluarganya pada tahun 1952. Sebuah nama yang menuntunnya pada jejak sejarah yang bersujud.
Berbekal kompas kecil penunjuk kiblat di dalam kamar yang gulita, Elias meniti jalan sunyi yang berbahaya. Ia menemukan kebenaran yang dicarinya dalam satu sujud pertama, namun kebenaran itu menuntut harga yang teramat mahal: seisi dunia yang harus ia lepaskan.
Ketika kedoknya terbongkar dan ancaman penjemputan paksa tiba di ambang pintu, dapatkah iman barunya bertahan ketika seluruh bumi tempatnya berpijak perlahan retak?.